Selasa, 30 September 2014

TRAVELOGIE BANGKA BELITUNG “Merengkuh rindu di Pulau Lampu Belinyu”

Diposting oleh Unknown 0 komentar
TRAVELOGIE BANGKA BELITUNG
“Merengkuh rindu di Pulau Lampu Belinyu”
Menenggelamkan diri dibirunya air laut. Trip yang gak direncanakan jauh-jauh hari. Ya, trip bersama kelabang boo! (walaupun gak lengkap personelnya). Kelabang bo merupakan  nama keluarga angkatan 8 kelas unggulan SMAN 1 Pemali. Singkatan dari Keluarga angkatan delapan oke dari tahun 2007 sampai sekarang. Masih.
Beberapa kali sudah planning list tapi banyak yang tertunda dan kali ini yeeeaay, at the least, we done 10 Agustus 2014. Saya bersama beberapa personel kelabang bo! Trip to Pulau Lampu di Belinyu, masih di Bangka Belitung. Saya pikir dan memang kenyataannya sudah banyak yang menceritakan seluruh keindahan yang ada di Pulau Lampu, buka rahasia umum. Ya, memang dan saya pun bukan pengunjung pertama. Ya gak mungkin lah. Saya adalah pengunjung yang menghayati irama kekeluargaan, mengobati penat, merengkuh kerinduan diantara kami ( personel kelabang bo) sudah lama tidak bepergian bersama, dimaklumi dengan kesibukan dan jarak masing-masing personel. Well, di Pulau Lampu seakan rindu kian merengkuh. Pulau Lampu terletak di Pantai Penyusuk Belinyu, Utaranya Pulau Bangka, Bangka Belitung.
Saya dan beberapa personel kelabang bo yang ikut dalam trip ini antara lain Jamik, Murzani, Isfarina, Anes, Fajar, Bekti Yulis, Mutiara dan Yuk Eva. Semua dari kami tinggal di Bangka Induk dan Bangka Tengah, jauh dari Belinyu sehingga kami merental mobil xenia abu-abu yang bisa memuat orang sembilan orang dan empat dari kami dengan sepeda motor. Sebelum berangkat, start dari Pangkalpinang dikemudi oleh Murzani, kemudian menjemput kami di Kenanga. Aih, Gerimis pagi yang menggoda sekaligus mewarnai keberangkatan kami. Gerimis pagi jam 10, menghias cerita trip ini. Kami berangkat jam 11 am dari Sungailiat dan tak lupa juga dengan agenda bakar ikan di Pantai, ritual yang harus ada. Sebelum berangkat isfarina dan jamik sudah memebeli ikan sinkur yang begitu fresh. Setengah matang ala orang jepang . Gurih dan manis. Loh?. Belum dibakar ni, baru saja dari pasar. Lengkap dengan bahan sambel kecap asam pedasnya, snack yang lainnya juga ditambah lagi buah rambutan, manggis, dan duku dari kelekak ( kebun buah-buahan) dibeakang rumah Fajar. Perfecto.
Diperjalanan satu setengah jam yang kami tempuh, ternyata kamitidak langsung ke Pulau. Kami masih menjemput Ikhsan dirumahnya, Ikhasan salah satu personel kelabang bo juga. Rumahnya di belinyu. So, we have arrived at Belinyu dan saya sempat posting on facebook. Hahaha. Untuk ketiga kalinya saya ke Belinyu. Sampai dirumah Ikhsan, wah disambut hangat oleh keluargnya dan disuguhi makanan. Mengiingat sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh tadi pastinyalaper. Hahha. Ada lagi dari kami mabok perjalanan, Yulis.  Pusing banget tu. Ini salah satu ciri-ciri orang Bangka karena jarang dengan mobil kemana-mana karena banyak dengan sepeda motor.
Lima belas menit sudah kami beranjak dari rumah Ikhsan dan lagi kami mendapat rejeki dikasih ikan super fresh dari Ibu nya Ikhsan untuk tamahan bakar ikan dan satu termos nasi juga. Terimakasih ya tante.heheh. Menjelang zuhur kami mulai jalan ke Pulau Lampu. Oh iya, gak gerimis, gak hujan. Cerah banget!!. Kami singgah seberntar di mesjid tertua di Belinyu untuk solat zuhur. Unik, bersejarah dengan tower yang menjulang tinggi. Setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan ke Pulau. Empat puluh lima menit dari kota belinyu tersebut sampailah kami di Pantai Penyusuk, dan disambut dua pulau yang tersenyum manis melambai kearah kami, menyambut kedatangan kami yaitu pulau Putri dan Pulau Lampu. Nah, tujuan kami kali ini Pulau Lampu. Pulau Putri next trip.  Aamiin. Gak cukup kalo sehari untuk untuk dua pulau langsung. Terlalu singkat. Untuk ke Pulau Lampu sudah tersedia ojek perahu dengan tarif Rp. 25.000/orang. So, cant wait kami langsung berangkat dengan perahu tersebut. Perahu tersebut memuat satu grup dari kami. Ombak mulai mengiring perjalanan kami se. Luar makin ketengah semakin goyang,  bagaimana tidak, ombaknya pun semakin besar. Luar biasa. Saya langsung ingat saja “ nikmat Tuhan mu yang mana yang kau dustakan?. Amazing. Seolah berjanji dengan diri melihat birnya air, ombak, ingin selalu menjaga kebersihannya dan menemukan kebahagiaan dengan sangat sederhana.
Lima belas menit kemudian kami tiba di Pulau Lampuyang dihiasi mercusuar menjulang, pohon nyiur melambai-lambai, batu granit tersusun rapi dan kokoh. Tap.tap. kaki-kaki kami menapak di Pulau Lampu. Yes, I do it . tanpa basa basi kami memilih tempat untuk agenda bakar ikan, menggelar tikar. Kembali kami terpana oleh indahnya pantai ini,aiirnya biru, irama ombak yang menabrak batuan ini lah yang merengkuh dan menyambut kami.
Kami pun mulai beraksi, ada yang membuat api untuk bakar ikan, membersihkan ikan dan ada juga yang sudah gak sabar menyeburkan diri dibirunya Pantai Pulau Lampu ( termasuk saya) semua dari kami nyebur, berenang, bermain-main ombak dan menenggelamkan penat yang dibawa dari kegiatan dan rutinitas sebulan terakhir.
Bau sedap, fresh, sweat sudah mengundang dendang perut ini. Ikan bakar plus sambal kecap asem pedas siap disantap. Kami pun menikmati dan melahapnya. Benar-benar hilang kata-kata, ya keringat dan sautan suara pedas masing-masing itu lah yang menciptakan kata-kata bahwa sungguh luarbiasa.  Delicious.
After that, back to beach. So, its time to the beach. Tak puas-puasnya menenggelamkan diri di air yang biru, mencoba berkelahi dengan debur ombak yang semakin besar seolah akan menang padahal gak bakalan. Damn cool, seorang teman kami berseru saking menikmati deburan ombak yang mengayun badan terombang ambing santai.
Tidak terasa sama sekali, melirik jam tangan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5. Sudah sore bro.  Kami berniat menunggu sunset atau sang mega merah yang pemberani  namun sepertinya sang mega masih malu dengan kami ini. Sore itu gerimis, dan menunggu sunset pun sepertinya tidak berhasil tapi tak apalah. Tak membuat kami kecewa juga, karena telah banyak keindahan yang disuguhi untuk kami hari itu.
Masing-masing sudah berbilas  badan dengan air tawar biar setelah berendam, mencebur di air laut tadi badan tidak lengket. Air tawarnya berada di sebelah towertinggi dan rumah tua  yang unik dan terawat.  Kami juga sempat berkeliling melihat nilai-nilai sejarah yang ada di pulau kecil ini. Terdapat juga makam tua seorang nelayan, yang terdapat tugu berslogan “mati satu, datang seribu” namun, sejarah ini masih rancu, apakah nelayan atau penunggu aslinya. Tak lupa juga kami selalu mengabadikan momen ini dengan selfie dan many taking pictures .


Melihat langit sudah mulai gelap dan gelombang semakin besar  dan ojek perahunya pun dengan setia sudah datang menjemput kami. Yah, kami harus kembali ke pantai Penyusuk dan pulang kerumah pastinya. Kami pun harus rela berpisah dengan pulau kecil ini yang ramah, indah dan merengkuhkan kerinduan diantara kami ( personel kelabang bo). Kami berpamitan dengan pak dayat, beliau adalah petugas yang memantau dan merawat pulau tersebut dari Dinas perhubungan Bangka Induk.
Senyum dari abang –abang ojek perahu yang menjemput kami, kami langsung naik ke perahu. Subhanallah, Tuhan menghadiahkan kami “ supermoon” sempurna gak ada sunset supermoon nan indah. I dont know what want I to say? Awesome, beatifull. Supermoon ini terjadi dengan keadan bulan muncul dengan bulat penuh dan terang seperti bulan purnama namun terlihat lebih besar. Tak lupa juga kami mengambil foto.
Gelombang semakin besar, berasa perahu kami mengikuti irama gelombang, dan ada dari kami yang sedikit mual. Sampailah kami di pinggir pantai penyusuk. Melambaikan tangan meninggalkan kenangan di pulau lampu.
Trip, holiday is done!! Guys, we will do next trip.
Kami beranjak dari pantai menyusuk menuju rumah masing-masing. Nice experience, nice trip, nice family Kelabang bo. Ya, begitulah cerita kami dari trip to to Pulau Lampu. See you in other travelogie Bangka Belitung.









Aseli Backpacker : Backpacking Trip To Mentok

Diposting oleh Unknown 0 komentar
Good Morning Mentok. Saya seolah tak percaya bahwa bangun pagi ini saya berada di Mentok. Lebay deh. Gak juga.hahha.Masih bersama rombongan backpacking kami, kami bangun pagi-pagi dan sarapan juga. Terimakasih rizki, sudah menyiapkan kami sarapan. Padahal kalau backpacker gak usah disipkan segala, carai sendiri. Tapi kebaikan hati kamu, menambah semangat kami. Berdasarkan planing hari ini kami akan berkeliling Mentok. Sayangnya, rizki dan teman-teman baru kami tidak bisa ikut. Mereka punya kesibukan, agenda dan tugas masing-masing.  Beranjak dari kontrakan rizki, kami pamitan dan mengucapkan banyak terimakasih. Perpisahan yang tidak diinginkan. Beginilah ada pertemuan ada perpisahan. Sampai ketemu lagi rizki dan teman-teman baru kami.we will miss you.

Kami memulai trip kami dari simpang RSUD Mentok. Kami mulai berjalan, yang awalnya kami menunggu angkutan umum untuk kepusat kota. Agak lama menunggu belum kunjung datang, kami memutuskan untuk berjalan kaki sesampai ada angkutan umum lewat. Baru beberapa langkah, bebrapa dari kami memilih kepinggir jalan untuk memtik buah karaduduk. Hitam-hitam manis. dan melanjutkan lagi perjalanan kaki kami. 

Kemudian terlintas ide saya untuk menumpang mobil pickup yang lewat, tak berapa lama ada mobil pickup yang lewat dan kami menyetopnya. Mobil pickup tersebut berhenti dan langsung bertanya kepada sopirnya. Apakah mobil ini lewat pusat kota?kemudian abang sopirnya mengatakan bahwa dia akan pergi ke tanjung kalian. Wow. Ini lah yang menjadi tujuan kami, tanjung kalian. Beliau mengiyakan kami menumpang mobilnya. Naik lah kami penuh semangat. Mobil pickup yang berisikan mesin penuh oli dan kami menyelip dibelakangnya.  Kami tertawa dan bergurau sepanjang perjalanan ke tanjung kalian. Ini baru backpacker aseli salahsatu dari kami berseru. Terasa puas rasanya bisa menikmati udara kota Mentok. Jalan menuju tanjung kalian sangat ektrim, tikungannya tajam-tajam dan menanjak. 

Kami menikmati perjalanan ini.Sekitar 30 menit kami tiba di tanjung kalian, tepatnya masuk diarea pelabuhan karena mobil yang kami tumpangi merupakan milik pengelola pelabuhan. Kami turun dari mobil dan bersalaman dan mengucapkan terimaksih kepada pak sopir untuk tumpangannya. Berkat beliau kami sampai ditanjung kalian dengan gratis.haha.Kami mulai beraksi menjadi wisatawan, asyik.. kami menuju pantai, namun tak sekedar jalan-jalan dan tidak sah kalu tidak mengambil foto-foto baik itu selfie maupun closeup.hehehe. ya, kaki kami menginjak tanah pantai tanjung kalian yang berhias batuan, mercusuar nan tinggi kokoh, dan ada beberapa kerangka kapal perang  padasaat perang dunia II dulu. Pantai ini penuh dengan sejarah perjuangan untuk kmerdekaan RI. Terlihat beberapa kerangka kapal yang tersisa sudah sangat karat. Kami juga melihat orang berlalulalang menuju kapal tujuan palembang dan lampung. Pelabuhan ini sangat ramai.Kami menyusuri pantai tanjung kalian kemudian pantai asrama yang mungil. Dan kami berniat untuk naik kemercusuar. Kami dikenakan tiket masuk Rp 5.000/orang untuk naik ke mercusuar. 

Ternyata bukan hanya rombongan kami yang masuk, masih banyak lagi rombongan yang lain. Seratus lebih anak tangga, kerasa kaki kami pegal-pegal dan nafas sedikit ngos-ngosan. Semua tu terbayar ketika kami sudah sampai ditas puncak mercusuar. Alam yang indah, kami melihat kota Mentok yang sesunguhnya. Amboi. Angin kencang membawa pobia ketinggian saya hilang. Kami sedang berada diujung barat nya Bangka Belitung. Terimakasih Tuhan, saya bisa berada disini. Sudah puas menyaksikan Mentok dari atas sana, kami pun turun bersama dan istirahat di teras rumah petugas disana. Sekitar setengah jam kami istirahat dan sholat zuhur. Setelah itu kami akan melanjtukan trip kembali. Kami sudah makan dan memang membawa bekal. Setelah memulihkan tenaga dan semangat kami melanjutkan trip ke arah kanannya pantai tanjung kalian. Kami menyusuri pantai batu berakit, terdapat perahu-perahu nelayan yang berwarna-warni. Kalau kami terasa letih kami berhenti sejenak untuk sekedar makan dan minum. Kami bermaksud menyusuri sepanjang  pantai tanjung kalian sampai pelabuhan. Melihat dari jauh memang terlihat dekat padahal kaki kami mulai terasa pegal-pegal. 

Jika benar-benar diukur kami telah berjalan sesudut dari pulau Bangka. Kami melewati rumah-rumah nelayan. Kami juga beristirahat dan membeli es di rumah penduduk sembari melanjutkan perjalanan sampailah kami di depan rumah mayor cina tua, namun masih terawat. Setelah mengambil beberapa foto kami menuju terminal ermaksud menanyakan bis kepangkalpinang yang terakhir. Setelah bertanya, ternyata itu bis terakhir yang akan berangkat jam 16.00 WIB. Pudar lah keinginan kami untuk kemenumbing karena waktunya sudah tidak mungkin lagi. Jadi, tripkemenumbing kami undur untuk trip selanjutnya. Setelah membeli tiket, kami jalan-jalan dulu ke taman kota Mentok dan museum timah. 

Di taman Kota Mentok, kami  naik tugu Soekarno, tugu proklamasi dan taman khas dan lambang kota Mentok. Dan kami juga mengunjungi Museum timah yang baru satu tahun diresmikan. Suasananya seperti kota tua nya Jakarta, malam juga begitu. Disana kami melihat banyak sejarah timah, perang dunia II, dan sejarah kemerdekaan RI. Didepan stasiun pun banyak pameran fotografi oleh pemuda Mentok. Setelah puas berkeliling museum kami menunggu bis untuk pulang. Ya, kami harus meninggalkan kota Mentok yang penuh sejarah ini. Lain kali kalau ada waktu kami berkunjung kembali, karena menumbing masing menunggu kehadiran kami. Kami naik bis, dan kami mendapat tempat duduk semua, semua bisa beristirahat. 

Bye Kota Mentok, embun yang menyelimuti menumbing tersenyum dan melambai agar kami singgah namun apadaya waktu sudah sore kami harus pulang. Backpacking trip to mentok pertama kami ini sangat ebrhasil, berkesan dan penuh cerita, penuh cinta. 

So, do you want to join our next trip? Wait for it!!

Untuk melakukan taveling, trip, backpacker saya terinspirasi dari banyak travelwriter, teman dan tulisan sederhana abang kami yang bernama suryandaru ini.

“Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel dipundak, berpindah-pindah dari satu kota kekota lain, dari satu desa kedesa lain, dari satu lembah kelembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap dirumah-rumah, selasar mesjid, penginapan murah meriah, nongkrong dipasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut. Maka, semoga pemahaman yang lebih bernilai dibandingkan pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekedar duduk didepan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada dalam hati kita. Kitlah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam sekala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah Dunia, pergilah berpetualangan, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur.”

Begitu kena dan menginspirasikan. Jangan tunggu lam-lama lagi kawan. Selamanya kita tidak muda.:)

Malam di Mentok : Kekompakan

Diposting oleh Unknown 0 komentar

Nana juga masih dalam perjalanan. Kami pun menuju musola dekat terminal, menunaikan solat magrib yang sudah hampir lewat.  Musola yang terlihat jarang sekali digunakan. Terpikir dari kami akan menginap dimusola namu sudah jelas tulisan yang dtempel didinding musola “ tidak boleh tidur di Musola”. Yaa, kami sedikit kecewa. Sembari menunggu Nana tiba, kami bermaksud Kemesjid Jami’ Mentok yang katanya bersebelahan dengan Kelenteng. Kami berjalan kaki, beberapa kali ditawari ojek namun kami menolaknya. Kami menyusuri pasar Mentok yang masih cukup ramai berbeda dengan Sungailiat, malam tidak ada pasar yang buka.

Sampai juga kami dimesjid Jami’ dan bersebelahan dengan kelenteng tersebut. Mejid ini sudah ada sejak zaman Belanda dan bangunannya memang bangunan tua yang terawat, kental dengan ciri-ciri adat melayunya. Mesjid megah dengan menara yang menjulang. Kelentengnya pun tak mau kalah dengan warna merah dan lilin yang menyala dengan bau gaharu yang khas cukup menyengat.

Saat berada di bis saya sempat SMS Sahabat saya rizki yang sedang bertugas di Mentok.  Dia lolosPNS tahun 2013 dan ditempatkan di Mentok. Dia menawarkan kami untuk menginap di kontrakannya. Saya mengiyakan. Dia dan teman-teman siap menjamu kami. Tak berapa lama setelah kami selesai sholat isya mereka datang. Saya pun terkesima, mereka benar-benar memang siap menjamu kami. Karena dimalam hari disini tidak ada angkutan umum. Jadi, mereka menyiapkan sepeda motor dan akan mengajak kami berkeliling dikota metok untuk malam itu.

Kami pun berkenalan dengan teman-teman yang memnag kami belum pernah ketemu sebelumnya, sambutan yang hangat. Kami pun bercerita panjang lebar sembari menunggu Nana tiba. Dari pejaga mesji kami ditawari untuk naik kemenara mesjid Jami’. Naiklah kami dengan ngos-ngosan menaiki anak tangga yang agak seram posisinya. Dari lantai paling atas kami bisa melihat Kota mentok yang cantik terlihat kelap kelip mercusuar tanjung kalian, lampu-lampu kapal dipelabuhan, jalanan malam minggu di Mentok. Sungguh cantik nian.

Ada dari rombongan kami bertanya ke penjaga mesjid, boleh tidaknya menginap dimesjid ini. Tapi, ternyata tidak bisa untuk cewek. Yah, yang cowok pun dari rombongan kami memutuskan untuk tetap bersama kami tidak menginap dimesjid.

Sahabat saya rizki, sudah menawarkan dan kami memutuskan untuk menginap di kontrakannya. Tak lama, nana pun sudah tiba. Istirahat sejenak untuk memulihkan nafas backpacker kami. Kemudian kami membagi siapa yang bonceng membonceng untuk jalan-jalan di Taman Kota Mentok.
Kami sangat beruntung, hari ini bertepatan dengan HUT Kota Mentokyang banyak dimeriahkan acara-acara dari elemen pemda dan pemuda-pemudanya. Ada bazar malam, festival menumbing dan final pemilihan bujang dayang Bangka Barat.  Berangkatlah kami kepusat kota mentok tersebut. Dan luarbiasa, sangat meriah kami rombongan dan sahabat saya rizki dan teman-teman baru kamiitu juga masuk ketengah-tengah keramaian ikut menyaksikan malam final pemilihan bujang dayang Bangka Barat. Kemudian, karena ada beberapa teman baru kmi itu mau makan dan punya acara lain, saya dan rombongan memisah dari mereka untuk melihat festival menumbing. Ya, datang kesetiap stand yang ada, mereka memamerkan dan menjual barang-barang khas mentok. Dan ada yang lebih unik yakni festival seribu kue. Mereka memamerkan berbagai macam kue-kue khas Mentok. Kami terbawa suasana perayaan HUT  Kota Mentok. Sudah terasa capek berkeliling melihat festival ini kami ingin memenuhi permintaan masing-masing perut kami. Cari makanan. Pastinya beli makanan. Karena sudah agak malam banyak makanan yang sudah habis, jadi kami memilih lesehan digardu tua dengan memsan indomie dan pempek yang warna hitam, ya saya baru kali ini melihat dan makan pempek yang warna nya hitam seperti itu.

Setelah selesai makan, kami beranjak ke kontrakan sahabat saya rizki. Sesuai dengan boncengan tadi, kami bersiap-siap melaju. Ternyata, saya harus bertukar boncengan dengan oka. Jadi saya sekarang boncengan dengan bang Franky, salah satu teman baru kami tersebut. Selama perjalanan menuju kontarakan rizki, saya berkenalan lebih lanjut kepada bang franky. Ternyata alasan saya bertukar boncengan adalah bang franky ingin mengungkapkan kesan dan keluhan dia terhadap rombongan kami. Saya mendengarkannya. Cukup mendengarkannya. Ya, ini pelajaran bagi rombongan kami. Rombongan kami masih kurang ramah dan merka memandang kami sombong. Saya membela rombongan kami , bisa jadi karena kami baru datang kita pun baru berkenalan dengan mereka. Iya, akhirnya kami sama-sama minta maaf dan semoga ini jadi pelajaran untuk kedepannya. Biar tambah ramah dan selalu senyum ikhlas. Saya tidak tersinggung sama sekali, malah saya sangat berterimakasih dengan bang franky  yang sangat bijak dan dewasa. Nice to meet you, bang.hehe.

Tibalah kami di kotrakan riki, kami sangat berterimaksih kepada rizki dan teman-teman baru kami yang telah ikhlas mengantar kami jalan-jalan dan memberi tumpangan menginap. Untuk malam ini istirahat dulu memandang kota Mentoknya. Kami beristirahat, ada yang langsng tidur, mandi,bersih-bersih dulu dan mengobrol.


Luar biasa untuk awal trip kami ini, kami banyak mendapat pelajar berharga salahsatunya kekompakan. Karena ketika kami kompak semua akan ada energi untuk bersemangat.  See you di aseli backpackeran.

On Bus : keberanian dan Kayakinan

Diposting oleh Unknown 0 komentar
Ini tulisan kelanjutan dari undangan backpacking trip to Mentok. Hari H pun tiba, ya hari sabtu tanggal 06 September 2014. Hari ini sesuai dengan undangan yang saya dan nana posting di media sosial adalah hari dimana kami melakukan backpacking ke mentok.  Sudah ada delapan orang yang mendaftar pada saya dan fix ikut. Saya, nana, oka, agus, zalika, amalia, obet,  dan gina. Ini lah rombongan kami yang akan backpacking trip to mentok. Kerenkan bahasanya. Ini juga menambah semangat kami. Berdasarkan kesepakatankami berangkat dari simpang 3 sempan. Ternyata, dari simpang 3 sempan bis untuk kementok yang paling sore sudah lewat . rencana kami pun batal. Eits, bukan trip to mentoknya yang bata. Hanya saja batal naik bis dari simpang 3 sempan. Saya dan rombongan naik bis dari Puding Besar. Alhamdullah langsung ada dan berangkatlah kami menuju Mentok selama 3 jam diperjalanan. Begitu juga dengan Nana, dia naik bis dari Pangkalpinang, kami sepakat akan bertemu diterminal Mentok. Oke. Lets goo..

Naik bis, kami tidak kebagian tempat duduk. Mengenaskan mengenang akan menempuh 3 jam perjalanan dengan berdiri bisa-bisa betis kami bengkak. Ada 2 orang dari kami yang kebagian tempat duduk. Hari ini rupanya bis kementok itu selalu ramai, karena banyak pegawai asal mentok yang bekerja di Pangkalpinang pulang kementok. Iya lah hari libur. Bis pun penuh dengan penumpang dan barang-barang. Kami harus menerima keadaan. Kami berdiri.

Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat kami untuk melakukan backpacking. Harusnya backpacker itu merasakan keadaan ini. Ini lah backpacker sejati. Hahaha. Usaha menyemangatkan diri.
Setengah perjalanan bis ini berhenti di Simpang Belinyu, ini merupakan tempat istirahat sejenak bagi supir, kernet dan penumpang. Untuk makan, karena sudah tersedia warung nasi dan juga untuk solat, tepat disimpang belinyu tersebut ada mesjid tua yang menarik dengan menaranya berwarna merah putih. Sebagian dari kami pun menuju mesji untuk menunaikan solat ashar dan aa pula yang istirahat. Sekitar 15 menit, setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali. Alhmadulillahnya, ada yang turun jadi beberapa dari kami sudah ada yang mendapat tempat duduk. Dan pertemuan yang tak disangka juga, ada alumni kami. Oh ia rombongan kami  enam orang ini dari SMA 1 Pemali kelas unggulan, dan saya alumninya. Kalau nana bukan. Nah, ternyata dalam bis tersebut ada alumni kami yang juga bisa jadi saya bilang dia mentor saya. Dia adalah mentor yang cukup keras pemikirannya dan bergelimangan ide. Kami akrab memanggilnya kak ikhsan. Pertemuan yang tak disangka juga. Kami tidak banyak mengobrol dalam bis dengan beliau. Kami bercanda dengan rombongan kami saja.

Perjalanan yang cukup jauh untuk kmentok, hari sudah gelap kami baru masuk Kota Mentok. Dan penumpang semakin sedikit, kami ditanyai oleh kernet mau turun dimana. Kami bilang turun diterminal terakhir. Ada juga Ibu-Ibu yang ingin mengobrol dengan kami dan bertanya kegiatan apa. Salah satu dari kami, amalia menceritakan kegiatan kami ini dan beliau salut. Mendapat pujian itu kami semakin bersemangat dan berani.

Perjalanan Nana masih berada dibis jauh dibelakang kami.  Sudah memasuki Kota Mentok tak sadar tinggal rombongan kami dan alumni kami itu, kak Ikhsan dan 3 penumpang lainnya. Di sudah bersiap-siap turun kayaknya rumahnya sudah dekat . dan sangat miris dengan alumni kami yang satu ini, beliau hanya mangajak kami singgah tapi tidak dengan nada yang serius dan memaksa. Maunya. Padahal beliau sudah bertanya, mau kemana dan kami menginap dimana. Sudah kami kami jawab juga kami tidak tahu mau kemana. Hehe. Modal nekat sih. Iya sih, tapi ini baru namanya backpacker. Tapi respon beliau biasa saja dan hanya merespon telpon saja ya nanti. Oh iya terimakasih kakak. Alumni yang sangat cuek pikir saya, bagaimana jika kami memang benar-benar tidak tahu menginap dimana. Teganya. Mungkin beliau kecapean juga jadinya tidak bisa mnjamu kami ini.hahhaa. seolah kami tamu. Wajarlah karena sebelumnya kami tidak membuat janji apapun.

Setelah tepat disimpang rumahnya, beliau pun turun dan pamita pada kami. Kami mengucapkan terimakasih atas tawaran menelponnya.  Sebenarnya juga kami tak ingin merepotkan beliau karena beliau juga plang kementok untuk libur bersama keluarganya. Tambah repotlah beliau jika kami berada dirumahnya. Dan esensi backpacking kami pun terkikis jika harus menginap dirumahnya.
Bis di Kota Mentok ini memiliki gaya sendiri, dan jarang dilakukan bis-bis umum dikota lain. Bis ini mengantarkan penumpangnya sampai depan rumah jika jalannya memungkinkan. Terasalah kami dibawa keliling kota mentok malam itu, masuk kejaln-jalan kecil. Karena malam, kami tidak terlalu mengamati jalan-jalan yang dilalui. Terakhir tiba diterminal dan benar sekali penumpang yng tersisa hanya rombongan kami bertujuh.


Kami menginjakkan kakidi Kota Mentok. Yeayy, Mentok I am here I said. Sudah lama rencana ke Mentok baru ini tereleasisasi. Bukan hanya saya saja yang baru pertama kali ke Mentok beberapa dari kami pun sama hanya Oka yang untuk ke-3 nya tapi itupun sekedar mengunjungi. Beda momen. Disini kami belajar bahwa keberanian akan selalu mendukung kita untuk mecapai sesuatu yang kita inginkan. Ya, perjalanan yang cukup bersemangat. Trip to Mentok. Ayyeey

Undangan : Backpacking Trip to Mentok

Diposting oleh Unknown 0 komentar

Setelah menggelarkan diri ( saya dan nana) sebagai miak natak. Kali ini kami mempunyai ide untuk mengadakan Backpacking ala Backpacker beneran. Ide yang sedikit mengundang kontroversial juga. Karena 3hari sebelum backpacking. Saya memposting berupa undangan kekawan-kawan semu yang tertarik dengan bacpacking bisa daftar dan ikut kami. Dan kira-kira begini lah yang saya posting.

#1st Girls & Backpacker
Backpacking trip to Mentok.
Siapa berani backpacking mesti diluar daerah, apalagi diluar negri?
Kalau dalam daerah,So what?
Nana and I interest to do taraveling ala backpacker ke Mentok, Bangka Barat, Bangka Belitung.
Wah, yang mau join gak mesti cewek lho. Hehe. Jangan-jangan udah liat judulnya. Kecewa. Ternyata event cewek. Tenang!! Kami mengajak semua pemuda/i Bangka Belitungnyang tertarik backpackeran.
Terus, why must trip to Mentok?
Mentok is legend city in Bangka. Gak hanya pantai-pantainya, tapi bisajelajh history, ragam budaya Bangka yang kental, kehidupan masyarakat yang menarik.
Kapan nih?
06-07 September 2014, Sabtu jam 15.00 WIB mulai Jalan ( naek bis S. Liat-Mentok) dari simpang 3 Sempan. Bawa perlengkapan masing-masing yang menurut mu penting kalo lagi backpacing.
So, how to join usa??
Contact me or nanaJ

Begitulah undangan untuk backpacking trip to mentok yang saya posting di facebook maupun twitter. Ada alasannya juga kenapa judul kegiatannnya 1st Girls & Backpacker ini karena kami adala cewek sejati  yang akan backpacking dan sangat jarang cewek-cewek di Bangka yang tertarik untuk Backpaking. Mereka lebih memilih berwisata seperti biasa saja. Setelah 1 menit posting banyak yang ngelike dan comment juga inngin ikut. Dan lebih tak menyangka ada yang inbox menawakan jasa tourguide secara gratis bo. Wow. Keren kan. Saya dan nana pun tidak mengira, ide iseng ini banyak di like sama teman-teman. Untuk edisi ini saya akan menulisnya dan membagi judul masing-masing sesuai dengan insight yang kami dapatkan. So, jangan berhenti disini dulu ya baca nya. Baca lagi pengalaman kami setelah trip. trims


Liburan : memanen lada

Diposting oleh Unknown 0 komentar

“ men sahang-sahang lah mulai mirah, musim mutik ge lah mulai—banyak keluar bujang kek miak, pegi memetik sahang”



Diatas erupakan potongan bait dari lirik lagu khas Bangka. Artinya, kalau lada sudah mulai merah, musim memetiknya pun akan dimulai, banyak bujang dan gadis untuk keluar memtik lada.
Wah, serukan di Bangka ada lagu yang sangat menggambarkan kegiatan para penduduknya. Lada merupakan komuditas besar di Bangka Belitung. Harga jualnya pun fantastis Rp 140.000/kg. Kalau musim lada berhasil banyak masyarakat yang naik haji, sekolah diluar Bangka, membangun rumah, motor, mobil baru. Betapa sejahteranya kami di Bangka.  Itu kalau yang brehasil namun jika tidak berhasil banyak, untuk masak tidak minta ke tetangga atau masak masih bisa pedas sahang, kata kami orang Bangka. Sekarang bukan 10 tahun yang lalu, yang mana semua masyrakat bergantung pada lada. Kini, Tambang timah mendominasi mata pencaharian kami akibatnya lahan-lahan untuk menanam atau berkebun lada sudah hampir habis. Sehingga, yang memanen lada tidak sebanyak dulu.



Liburan kali ini saya mendapat kesempatan ikut memanenkan lada. Sangat bersyukur memanen lada punya keluarga saya sendiri. Walaupun tidak banyak. Alhamdulillah. Melihat lada, buahnya yang hijau dan merah, rimbun dengan daun dan batangnya yang kuat mengandung filosofi “ Kaya, berkah, makmur”. Thats right. Nah, pada saat liburan ini saya merasa mendapat motivasi dengan filosofi lada, kita yang merantau di Jakarta crowded city, traffic jam, padatnya kegiatan penat pun terasa. Untuk merefreshnya saya memilih liburan kekebun untuk ikut memanen lada. Lada biasanya panen pada bulan Mei dan Agustus.


So, kalu kawan-kawan tertarik untuk mencoba ikut memanen lada secara langsung merasakan bagaimana memetik tangkai lada, memanggul keranjang khususnya, merendam, mencuci hingga menjemur lada mark your calender dan datanglah ke Bangka, kemudian ada sistem upah memetik lada. Khusus yang punya kebun sibuk atau panen besar.  Mereka mengajak orang lain untuk memetik dan orang tersebut mendapat upah dengan upah Rp 80.000/hari. Lumayan kan setara dengan rasa capeknya. Tapi menyenangkan sungguh, patut dicoba untuk mengisi liburan yang bermanfaat.
 

Aluna Alanis's Life Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting